Kamis, 02 Februari 2012

Mainan Dari Kardus



Oleh: Christine
Foto: Christine, 2007, Truk Kotak Susu

Tidak sulit menyulap sampah menjadi mainan, hanya butuh kreatifitas dan sedikit ketekunan. Anak juga bisa dilibatkan dalam proses pembuatannya sehingga akan timbul rasa “memiliki” pada diri anak.

Jika seorang balita ditanya, “Nak, Ulang Tahun nanti mau hadiah apa”; bisa ditebak jawabannya pasti “Mainan”. Tak heran, sekarang ini toko khusus mainan anak-anak ada dimana-mana. Jenis mainannya juga sudah tak terhitung banyaknya, harganya juga bervariasi dari yang murah banget sampai yang mahal banget.

Dalam memilih mainan untuk balita, kita juga harus hati-hati. Mesti diperhitungkan faktor keamanannya. Ada kan mainan yang harganya murah banget….eh, nggak tahunya mengandung zat-zat berbahaya. Mainan yang mahal, umumnya mencantumkan label non toxic dan batasan umur anak yang dapat memainkannya. Tapi sayangnya, anak balita belum bisa merawat mainan. Rasa ingin tahunya masih sangat besar sehingga mainan tersebut tidak berumur panjang. Kalau diumpamakan sebuah bengkel, “terima bongkar tidak terima pasang”.

Aku sendiri jarang membelikan mainan untuk anakku, dan untungnya anakku juga bukan type anak yang harus selalu dituruti keinginannya. Jadi, kadang di toko mainan dia cuma lihat-lihat saja, pegang sana, pegang sini tapi tidak minta dibelikan. Di rumah, anakku memang punya banyak mainan tapi “warisan” dari sepupu-sepupunya.

Selain bermain dengan mainan “second” anakku juga bisa bermain dengan apa saja; misalnya kursi, ember, gelas & botol plastik bekas air mineral, kotak-kotak bekas, daun, rumput, batu, botol bedak baby, dll. Karena sifatnya yang bisa bermain dengan apa saja inilah yang mendorong aku untuk membuat mainan dari barang-barang bekas yang ada disekitar. Barang-barang yang biasa kumanfaatkan adalah kotak bekas kemasan susu UHT dan Koran atau majalah bekas. Salah satu mainan buatanku adalah truk kotak susu.

Badan truk ini dibuat dari 6 buah kotak susu UHT 125ml, 1 buah kotak susu UHT 1 ltr, beberapa kertas Koran sebagai “pemberat” dan sebagai “cover”. Cara membuat pemberat, kertas Koran dilipat-lipat dan dimasukkan ke dalam kotak susu 125ml. Satu kotak susu berisi 2 lembar besar kertas Koran. Kotak-kotak susu ini kemudian dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi body truk (bentuk sesuai selera) dan kotak susu yang besar sebagai kontainernya.

Roda truk dibuat dari majalah bekas yang dilinting serong dengan bantuan pensil seperti melinting Koran pada pembuatan Keranjang Telur Paskah, 26 Februari 2008 tapi mulainya dari salah satu sudut kertas/posisi serong. Lintingan kertas kemudian digulung hingga menyerupai roda. Satu roda membutuhkan 2 lintingan kertas. Ide roda ini aku dapatkan di blog sampahnya Henny http://blogsampah.blogsome.com/ ttg pembuatan mangkok kertas. Sebagai as roda digunakan sedotan air mineral dan tusuk sate.

Tidak sulit menyulap sampah menjadi mainan, hanya butuh kreatifitas dan sedikit ketekunan. Anak juga bisa dilibatkan dalam proses pembuatannya sehingga akan timbul rasa “memiliki” pada diri anak. Waktu membuat truk ini anakku yang kebagian tugas mencuci semua kotak susu dan menjemurnya.

Banyak manfaat yang aku dapatkan dari mainan sampah ini. Yang pertama dari segi biaya jelas super hemat, kemudian anakku jadi “sayang” sama truknya karena “ikut membuat”. Kalau rusak bisa diperbaiki, kalau bosan bisa diganti modelnya. Misalnya, bosan dengan truk kontainer tinggal dicopot kontainernya sudah jadi truk tronton.

Roda truk kotak susu yang semula ada 8 sekarang tinggal 4, warna kertas korannya juga sudah kumal. Aku belum sempat mereparasi dan mengecatnya tapi anakku masih tetap enjoy memainkannya.
Sumber:
http://myblog-christine-christine.blogspot.com